Dipublikasikan pada: 12-08-2026
Petani Baosan Lor Konsultasikan Hama dan Penyakit Tanaman dalam Diskusi Pertanian bersama Ahli
Baosan Lor, 24 Juli 2026 — Permasalahan hama dan penyakit tanaman menjadi salah satu tantangan yang tidak terpisahkan dari kehidupan petani di wilayah perdesaan. Bagi masyarakat Desa Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, persoalan tersebut menjadi semakin penting mengingat sektor pertanian merupakan salah satu penopang utama kehidupan masyarakat, dengan berbagai komoditas yang dibudidayakan, termasuk porang, kopi, padi, jagung, dan tanaman lainnya.
Sebagai upaya menjawab kebutuhan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University 2026 Kabupaten Ponorogo bersama masyarakat Kecamatan Ngrayun, Pulung, dan Pudak melaksanakan kegiatan diskusi dan konsultasi pertanian bersama narasumber melalui Zoom Meeting dengan mengangkat topik “Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman dan Konservasi Lahan” pada Jumat, 24 Juli 2026.
Kegiatan ini merupakan hasil koordinasi dan kesepakatan bersama para Koordinator Desa KKN Kabupaten Ponorogo. Pelaksanaan dilakukan secara serentak di masing-masing desa dengan melibatkan masyarakat, khususnya petani yang memiliki permasalahan dalam budidaya tanaman. Untuk Desa Baosan Lor sendiri, mahasiswa mengumpulkan masyarakat RT 03 di Masjid At-Taqwa untuk mendengarkan Zoom Meeting bersama-sama
Berbeda dengan sosialisasi yang hanya berisi penyampaian materi satu arah, kegiatan ini dirancang secara interaktif. Masyarakat diberikan kesempatan untuk menyampaikan secara langsung permasalahan yang mereka temui di lahan kepada narasumber.
Di Desa Baosan Lor, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi petani untuk mendiskusikan berbagai persoalan tanaman yang selama ini mereka hadapi. Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah tanaman porang, yang merupakan salah satu komoditas pertanian penting di wilayah tersebut.
Petani menyampaikan permasalahan berupa busuk batang dan umbi pada tanaman porang serta ditemukannya ulat ketika tanaman dicabut. Berdasarkan konsultasi, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan beberapa kemungkinan, termasuk keberadaan jamur pada umbi maupun nematoda pada bagian akar. Narasumber juga menekankan pentingnya penggunaan bibit yang baik karena kualitas bibit dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman pada tahap berikutnya.
Dalam penanganan budidaya porang, petani juga mendapatkan informasi mengenai pentingnya memperhatikan kondisi lahan. Porang dinilai lebih sesuai pada lahan yang relatif kering, sementara penanganan bibit dapat dilakukan dengan perlakuan yang sesuai untuk membantu mengendalikan potensi organisme pengganggu tanaman.
Diskusi tidak berhenti pada pengendalian hama dan penyakit. Kondisi tanah dan keberlanjutan lahan juga menjadi salah satu pembahasan utama. Narasumber menjelaskan bahwa penggunaan pupuk secara terus-menerus perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kondisi tanah dalam jangka panjang. Sebagai alternatif, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan bahan organik, seperti sekam yang diolah menjadi arang, pupuk organik, maupun bahan lain yang dapat membantu mempertahankan kualitas tanah.
Pengelolaan gulma dan perlindungan permukaan tanah juga menjadi bagian dari diskusi. Beberapa pendekatan yang dibahas antara lain penggunaan mulsa organik dari jerami, tanaman penutup tanah, serta sistem penanaman dengan tajuk bertingkat untuk membantu melindungi permukaan tanah dari paparan langsung. Hal tersebut menjadi relevan bagi Desa Baosan Lor yang memiliki karakter wilayah perbukitan. Kondisi topografi desa membuat pengembangan pertanian perlu berjalan beriringan dengan upaya konservasi tanah dan air serta pengelolaan lahan yang memperhatikan risiko erosi dan longsor.
Dalam sesi diskusi mengenai konservasi lahan, masyarakat juga mendapatkan pemahaman mengenai berbagai tindakan sederhana yang dapat diterapkan untuk mengurangi ancaman kerusakan tanah. Beberapa upaya yang dibahas meliputi reboisasi, penggunaan amelioran, pemanfaatan mulsa dan pupuk kandang, pembuatan teras pada lahan miring, biopori, serta drainase. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kualitas tanah sekaligus mengurangi risiko kerusakan lahan akibat erosi dan limpasan air. Bagi masyarakat Baosan Lor, pembahasan mengenai konservasi menjadi semakin penting karena pertanian merupakan bagian utama dari kehidupan masyarakat. Pengembangan pertanian tidak hanya perlu berorientasi pada peningkatan hasil panen, tetapi juga bagaimana tanah tetap produktif untuk digunakan dalam jangka panjang.
Kegiatan diskusi ini menunjukkan bahwa kebutuhan petani tidak selalu berupa tambahan informasi umum mengenai pertanian. Sering kali, petani membutuhkan ruang untuk membawa persoalan spesifik dari lahannya dan memperoleh arahan berdasarkan kondisi yang mereka alami secara langsung.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University 2026 berperan sebagai penghubung antara masyarakat dengan narasumber yang memiliki kompetensi di bidang pertanian. Kegiatan juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bertanya secara langsung dan bertukar pengalaman mengenai permasalahan budidaya yang dihadapi. Kegiatan tersebut sejalan dengan upaya KKNT Inovasi IPB University 2026 dalam mendukung penguatan kapasitas masyarakat Desa Baosan Lor. Sebelumnya, pengembangan pertanian desa juga diarahkan pada pengenalan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, termasuk pemanfaatan teknologi sederhana dan bahan organik untuk mengurangi ketergantungan terhadap input kimia.
Pada akhirnya, diskusi ini tidak hanya menjadi kegiatan penyampaian informasi, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama antara petani, mahasiswa, dan ahli. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengambil langkah yang lebih tepat dalam menghadapi permasalahan tanaman sekaligus menjaga keberlanjutan lahan pertanian Desa Baosan Lor. Dari permasalahan di lahan, menjadi pertanyaan. Dari pertanyaan, menjadi pengetahuan. Dan dari pengetahuan, lahir langkah nyata untuk pertanian yang lebih berkelanjutan.