Dipublikasikan pada: 10-08-2026

KKNT Inovasi IPB University Sosialisasikan Pembuatan PGPR untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Desa Baosan Lor


KKNT Inovasi IPB University Sosialisasikan Pembuatan PGPR untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Desa Baosan Lor
Baosan Lor, 27 Juli 2026 – Di tengah besarnya potensi sektor pertanian di Desa Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, berbagai upaya untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian terus dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi pembuatan pupuk hayati Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) yang dilaksanakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Balai Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Ngrayun pada 27 Juli 2026. Kegiatan diikuti oleh kelompok tani “Banyu Urip” yang dipimpin oleh Pak Kadirin, serta dihadiri oleh anggota kelompok tani dan pihak BPP. Dalam kegiatan ini, Danang Aria Pranedya Baskoro, S.T. selaku penyuluh pertanian di wilayah Desa Baosan Lor bertindak sebagai pemateri utama yang memberikan penjelasan sekaligus demonstrasi mengenai pembuatan PGPR. Acara diawali dengan sambutan dari Pak Kadirin selaku ketua kelompok tani, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Pak Rubi selaku Ketua BPP Kecamatan Ngrayun. Setelah itu, kegiatan memasuki sesi utama berupa pemaparan materi yang disampaikan oleh Danang Aria Pranedya Baskoro, S.T. Dalam pemaparannya, Mas Danang menjelaskan bahwa PGPR merupakan kelompok bakteri yang hidup di sekitar daerah perakaran tanaman atau rizosfer dan memiliki peran dalam mendukung pertumbuhan serta kesehatan tanaman. Keberadaan bakteri tersebut dapat memberikan berbagai manfaat bagi tanaman, sehingga PGPR berpotensi dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif dalam mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Menurut Mas Danang, pemanfaatan PGPR memiliki sejumlah keunggulan bagi petani. Selain bahan pembuatannya relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar, penggunaan PGPR juga dapat membantu menekan biaya produksi pertanian. Pemanfaatan bahan-bahan organik lokal tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi petani dalam mengurangi ketergantungan terhadap input pertanian komersial sekaligus mendukung penerapan pertanian berkelanjutan. Sosialisasi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan tahapan pembuatan PGPR secara runtut. Alat yang digunakan dalam proses pembuatan meliputi satu buah drum berkapasitas 60 liter, satu buah airlock, dua kantong kain saring, batang pengaduk, dan tali rafia. Sementara itu, bahan yang digunakan terdiri atas 300 gram akar bambu, 150 gram akar pinus muda, 22 liter air kelapa, 13 liter urin sapi, dan 850 mililiter molase. Seluruh bahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam drum berkapasitas 60 liter sesuai dengan tahapan yang telah dijelaskan. Proses pembuatan dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai sumber nutrisi dan media untuk mendukung pertumbuhan mikroorganisme yang berperan dalam PGPR. Penggunaan airlock juga menjadi bagian dari proses pembuatan untuk membantu mengatur kondisi selama proses berlangsung. Lebih lanjut, Mas Danang menjelaskan bahwa PGPR dapat memberikan beberapa manfaat bagi tanaman. Mikroorganisme dalam PGPR dapat membantu merangsang pertumbuhan akar melalui produksi senyawa pengatur tumbuh, seperti auksin, giberelin, dan sitokinin. Selain itu, PGPR juga berperan dalam membantu ketersediaan unsur hara bagi tanaman serta berpotensi menekan keberadaan patogen yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University berharap pengetahuan mengenai pembuatan dan pemanfaatan PGPR dapat diterapkan oleh kelompok tani di Desa Baosan Lor. Pemanfaatan bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar diharapkan tidak hanya dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi, tetapi juga menjadi salah satu langkah dalam mewujudkan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kegiatan sosialisasi kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi bersama pihak BPP Ngrayun dan Kelompok Tani “Banyu Urip” sebagai bentuk kebersamaan dan dokumentasi pelaksanaan kegiatan KKNT Inovasi IPB University di Desa Baosan Lor.